Daerah  

Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning

Kuamang kuning adalah salah satu Trans atau transmigrasi dari beberapa daerah di Provinsi Jambi,

Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning
Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning

KUAMANGKUNING.COM – Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning yang berada di Kabupaten bungo, Kecamatan pelepat ilir, Provinsi jambi Sumatera selatan.

Transmigrasi Kuamang Kuning adalah salah satu Trans dari beberapa daerah di Provinsi Jambi, yang terletak di Kabupaten Bungo.

Kuamang Kuning merupakan daerah Trans, dengan terdiri dari 20 Unit atau desa, yaitu Unit 1 sampai unit 20 pada saat itu.

Transmigrasi Kuamang Kuning yang di lakukan pada tahun 1985 ini merupakan Transmigrasi Desa dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra.

Dahulu Transmigrasi Kuamang Kuning hanya memiliki Penghasilan utama adalah dari perkebunan, terutama Kelapa Sawit

Namun ada juga yang berkebun Karet secara minoritas,

Suku daerah yang menjadi penduduk di Transmigrasi Kuamang Kuning pada umumnya adalah pendatang dari jawa, Sunda, batak, Padang, dan Suku Pribumi Jambi.

Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning

"<yoastmark

Kuamang Kuning juga terdapat Suku asli atau Pribumi yaitu Suku Kubu yang masih bersifat nomaden dan masih mempertahankan budaya dari Nenek Moyang.

Suku Kubu memeiliki kebiasaan berpindah-pindah (nomaden), mereka hidup dari berburu hewan di hutan dan kemudian menjualnya ke pedagang pasar tradisional.

Suku Lain Transmigrasi Kuamang Kuning

Sebelum kita melanjutkan ke Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning ada baiknya anda membaca dengan seksama tentang Suku Anak Dalam ini.

Cerita Suku Anak Dalam (SAD)

Satu hal yang menarik dari Suku Anak Dalam atau yang biasa di sebut Suku Kubu ini adalah,

Mereka akan meninggalkan tempat tinggalnya apabila ada salah satu anggota keluarganya yang sakit atau meninggal.

Karena mereka merasa takut terhadap orang yang meninggal dunia (meninggal),

mereka akan meninggalkan mayat tersebut di dalam rumah tempat dia tinggal.

Sejarah Suku Anak Dalam (SAD)

Suku Kubu ini merupakan orang yang berasal dari kerajaan jambi, namun ada juga yang berpendapat dari zaman Penjajahan Belanda,

yang melarikan diri ke hutan dan hinnga sekarang tidak mau berbaur dengan masyarakat luar.

Tentang Kerajaan Jambi

Konon, pada zaman Kerajaan Jambi di perintah oleh Putri Selaras Pinang Masak,

kerajaan di serang oleh Orang Kayo Hitam yang menguasai Ujung Jabung (Selat Berhala).

Serangan itu membuat Jambi kewalahan, untuk itu Ratu Jambi yang notabene adalah keturunan Kerajaan Minangkabau meminta bantuan kepada Raja Pagaruyung,

dan Sang Raja memperkenankan permohonannya dengan mengirimkan pasukan ke Jambi melalui jalan darat (menyusuri hutan belantara).

Suatu saat ketika sampai di Bukit Dua belas mereka kehabisan bekal, padahal sudah jauh dari Pagaruyung dan masih jauh untuk melanjutkan perjalanan ke Jambi.

Kemudian, mereka bermusyawarah dan hasilnya kesepakatan untuk tetap tinggal di tempat tersebut,

dengan pertimbangan jika kembali ke Pagaruyung di samping malu juga bukan hal yang mustahil akan di hukum oleh Rajanya.

Sementara itu, jika meneruskan perjalanan ke Jambi disamping masih jauh juga bekal tidak ada lagi,

kemudian mereka bersepakat dan bersumpah untuk tetap tinggal di tempat itu dengan ketentuan siapa saja melanggarnya akan sengsara.

Sumpah Kerajaan Jambi

Sumpah itu adalah sebagai berikut :

Ke mudik di kutuk Rajo Minangkabau, ke hilir kena kutuk Rajo Jambi, ke atas tidak berpucuk, di tengah-tengah di makan kumbang, kebawah tidak berurat, di timpo kayu punggur”

(Kembali ke Minangkabau di kutuk Raja Minangkabau, ke hilir di kutuk Raja Jambi, ke atas tidak berpucuk, di tengah-tengah dimakan, kumbang, ke bawah tidak berakar, di timpa kayu lapuk).

Para tentara Pagaruyung yang membawa isteri dan tersesat di Bukit Dua belas itulah yang kemudian menurunkan orang Kubu.

Terpilihnya bukit ini sangat beralasan karena di sana banyak batu-batu besar yang sekaligus dapat di manfaatkan sebagai benteng.

Selain itu, di sana asa sumber air dan sungai-sungai kecil yang menyediakan berbagai jenis ikan yang sangat di butuhkan dalam keberlangsungan hidup mereka.

Itu merupakan asal usul mengenai suku kubu namun masih ada versi lainnya selain deskripsi ini.

Nama Lain Suku Anak Dalam

Suku Kubu atau juga di kenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra.

Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Tradisi Suku Anak Dalam

Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang melarikan diri ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo, Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi.

Ini di perkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.

Tempat Tinggal Suku Anak Dalam

Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu

  1. Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30),
  2. Taman Nasional Bukit 12, dan
  3. Wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra).

Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan,

dan proses-proses marginalisasi yang di lakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan.

Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke agama Islam.

TRANS KUAMANG KUNING

Banyak cerita suka dan duka ketika para penduduk luar sumatera datang dan menjadikan transmigrasi kuamang kuning berkembang.

KEHIDUPAN SOSIAL

Mengutip dari sisi Kehidupan sosial masyarakat transmigrasi masih sangat baik, pola Budaya dan Gotong-royong masih tetap di pertahankan, penerapan Inovasi di sana pun masih berjalan,

Kepala Desa di transmigrasi kuamang kuning di pilih melalui pemilihan oleh masyarakat secara demokrasi, dan di transmigrasi kuamang kuning Kepala Desa di sebut Rio.

Taraf pendidikkan

Taraf pendidikkan di sana cukup baik, karena taraf perekonomian yang sudah semakin berkembang, dengan otonomi daerah yang berlaku, sehingga kebijakan yang di tanamkan dapat lebih berjalan

Pada masa awal di bukanya daerah transmigrasi kuamang kuning Presiden RI ke dua bapak Jendral Purn. HM. SOEHARTO pernah melakukan kunjungan di transmigrasi kuamang kuning

"<yoastmark

Demikian infromasi Tentang Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning, untuk terbentuknya daerah Transmigrasi.

Dan Alhamdulillah sekarang Transmigrasi Kuamang Kuning memilik Wakil Bupati yang bisa membantu perkembangan kabupaten bungo.

Catatan:

Artikel ini telah Terbit Pertama Kali 01 Mei Tahun 2016
Sumber: Di ambil dari berbagai sumber
Judul: Sejarah Transmigrasi Kuamang Kuning
Di perbarui Pada Tanggal 06 Juli 2022
Editor: Kuamangkuning.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *