Untuk postingan saya kali ini saya tidak akan menulis dulu tentang Bisnis Online dan Internet Marketing seperti biasa. Tapi (entah kenapa) hati saya tergerak untuk share opini pribadi saya disini terkait isu hangat yang terjadi di negara kita. Isu tentang Indonesia vs Malaysia… 🙂 .
Saya harap anda juga jangan terprovokasi dulu dengan judul saya diatas, sebelum anda membaca dengan tuntas isi postingan saya ini. Kalau sudah membaca semua… silahkan anda mau terprovokasi ataukah tidak. 🙂

Kalimat seperti yang saya jadikan judul postingan kali ini pasti sering anda dengar ataupun anda lihat diberbagai media disekitar anda… khususnya di internet. Diberbagai social media seperti facebook dan forum misalnya, anda pasti menemui postingan-postingan (bisa berupa update status atau artikel) yang ditulis oleh pemiliknya menyikapi kondisi hubungan kedua negara rumpun melayu yang “terkesan” memanas akhir-akhir ini.

Dari berbagai tulisan tersebut ada yang menyikapi kondisi ini dengan hati dan pikiran yang dingin (kelompok suka diplomasi) dan ada pula yang terkesan “panas” dalam menyikapinya (kelompok ingin perang), namun ada juga satu lagi kelompok yang gak tau apa-apa… malah bertanya ada apa sih antara Indonesia dengan Malaysia? (kelompok nggak suka nonton berita… tapi suka Sinetron, hehe).

Diberbagai Forum di internet juga banyak yang “mengobarkan” semangat permusuhan dengan saling mengatai masing-masing kelompok/negara dengan sebutan yang “kurang etis”. Baik forum Indonesia maupun Malaysia.
Saya tidak akan memberitahukan dimana forumnya… saya nggak ingin jadi penyebar hal negatif yang bisa meracuni pikiran kita.

Terus… memang kenapa dengan ketiga kelompok orang yang saya sebutkan tersebut?

Nah, dari ketiganya… saya heran kenapa kok lebih sering menemui tulisan-tulisan dari kelompok kedua (ingin perang). Dimana kalimat atau opini pendek mereka mengatakan bahwa sebaiknya kita perang saja dengan Malaysia, karena Malaysia telah berkali-kali berlaku “kurang ajar” pada negara Indonesia.
Jadi daripada kita diem terus dan terus “diinjak-injak” oleh negara lain… maka lebih baik perang saja, ini masalah harga diri. Kalau istilah kerennya Bung Karno… Ganyang Malaysia. 🙂

Kelompok ini juga tambah geram disaat merasa bahwa pemerintah kita tidak tegas dan lamban dalam menyikapinya. Ada yang bilang pemerintah bersikap lembek, pemerintah takut bersikap tegas, pemerintah lambat bertindak, pemerintah diam saja, dls.
Saya justru jadi bertanya… maksutnya nggak tegas atau lambat ini yang bagaimana?. Gak tegas atau lambat untuk menyatakan bahwa kita harus perang.. atau nggak tegas dalam menyelesaikan perselisihan ini?. Ini dua hal yang berbeda dan bertolak belakang lho.

Karena bila tegas untuk menyatakan perang berarti akan terjadi perang… tapi bila tegas dalam menyelesaikan perselisihan maka berarti tidak akan terjadi perang. Karena semua negara tahu bahwa perang bukan penyelesaian yang baik untuk suatu perselisihan… perselisihan tidak akan selesai dengan perang, tapi justru perang itu adalah perselisihan yang lebih besar. Jadi kenapa harus (tegas) mengharapkan perang?

Bayangkan kalau kita berperang… punya semangat keberanian yang membara sih boleh saja. Tapi jangan lupa untuk berfikir rasional. Berapa coba keluarga kita yang sekarang sedang mengadu nasib di Malaysia… dan warga Malaysia yang ada di negara kita?

Kalau perang apa mungkin kedua belah warga negara tersebut akan dibiarkan saja oleh pemerintah Malaysia dan juga Indonesia?. Kalau mereka semua ditarik pulang… yakin akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak, padahal kondisi di negara masing-masing sedang perang.

Nggak sedang perang aja yang di Indonesia pada merasa susah kok cari pekerjaan… apalagi kalau lagi perang. Mau mencari nafkah apa mereka dan keluarga di negara ini saat perang?

Saya yakin… TKI yang mengalami penganiayaan di Malaysia itu LEBIH SEDIKIT daripada yang bisa bekerja dengan baik. “Terkesan” banyak yang dianiaya itu hanya karena beberapa beritanya di “blowup” oleh media.

Buktinya… lebih banyak kok TKI dari kampung saya yang bisa membangun rumah dan beli motor/mobil bahkan milih kembali lagi jadi TKI, daripada TKI yang dipulangkan.

Ada yang dipulangkan pun itu karena mereka dulu memang berangkat dengan ilegal (ya itu memang salah). Saya yakin dikampung anda juga begitu… ngaku deh. 🙂

Kita beranggapan bahwa… dengan menarik semua TKI kembali itu akan menyelesaikan satu masalah, sehingga kita bisa berperang dengan leluasa. Saya yakin itu SALAH… malah itu adalah masalah baru bagi negara kita, khususnya bagi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tuh… hehehe.

Melakukan embargo atas semua produk Malaysia… itu juga bukan solusi yang mujarab (meski bisa dilakukan), kalau kita embargo produk dan investasi Malaysia di Indonesia justru itu akan mengurangi perolehan keuntungan negara dari sektor investasi.

Lagian… kalau cuma di embargo oleh negara Indonesia saja itu nggak akan berpengaruh besar terhadap kondisi Malaysia, kecuali di embargo oleh (minimal) negara se-ASEAN. Wong Malaysia itu investasi dan eksport produknya banyak ke berbagai negara di dunia… khususnya ASEAN dan ASIA, tidak hanya di Indonesia.

Ini hanya dari satu pertimbangan aja lho…(TKI dan Embargo), belum dari pertimbangan yang lain yang mungkin muncul di pikiran kita sebagai masyarakat.

Saya hanya ingin mengatakan… bahwa jangan jadikan perang sebagai sebuah harapan kita untuk permasalahan ini agar cepat tuntas. Yakin dah… PERANG BUKAN PENYELESAIAN/PENUNTASAN YANG BAIK, justru perang itu akan menjadi awal dari kesengsaraan rakyat yang sudah merdeka.
Apa ingin mengulang rasa saat peperangan selama puluhan bahkan ratusan tahun yang dulu pernah dirasakan rakyat Nusantara ini.

Kalau mau berperang… tuh ada musuh (kaum kafir) yang ingin menghancurkan negara-negara dengan agama tertentu. Yang sudah sejak jaman Nabi memang menjadi musuh. Dan sudah disampaikan di kitab suci bahwa mereka adalah musuh kita. Berperang dengan mereka lebih “berharga” daripada perang dengan saudara serumpun. Betul tidak… 🙂

Menurut saya… lebih baik bentuk saja “Uni Melayu”… (hehe..itu istilah saya saja). Persatuan negara-negara yang memiliki kesamaan rumpun Melayu. Saya yakin Insya Allah itu akan lebih positif daripada menggalang permusuhan.

Negara kita ini negara berlimpah kekayaannya (meski kadang kita kurang bisa mengolahnya), maka banyak pihak yang menginginkan untuk menguasainya.
Negara kita juga terkenal sebagai negara “tersolid” didunia, karena kita memiliki ratusan suku, bahasa daerah, dan berbagai agama didalamnya, tapi kita bisa terus bersatu.

Coba… negara mana yang punya keanekaragaman suku, budaya, bahasa, dan agama yang sebanyak dan seperti kita… tapi bisa tetap bersatu??. TIDAK ADA..!!

Jadi jangan sampai terprovokasi oleh isu-isu negatif disekitar kita. Jangan sampai 2 negara yang memiliki kesamaan rumpun ini (baik budaya maupun agama) jadi terpecah belah, malah berperang karena diprovokasi oleh “pihak-pihak” lain yang ingin kita terpecah dan berseteru. Sehingga mudah dikuasai nantinya…

Salah satu contoh negara serumpun yang terpecah karena provokasi adalah Korea (Utara dan Selatan).

Mereka satu rumpun sama seperti kita dan Malaysia, tapi mereka berhasil dipecah belah oleh pihak lain bahkan sekarang jadi bermusuhan… dan (Korut) malah menjadi musuh beberapa negara di dunia, dengan menggunakan isu Nuklir. Apakah kita mau seperti negara itu??

Kalau mau nunjukin semangat nasionalis… khususnya di era sekarang, bukan dengan perang caranya (itu cara masa penjajahan dulu). Yang terbaik (menurut saya) yakni dengan terus mau melestarikan dan menguasai budaya kita, jalinan kerukunan umat, kecintaan terhadap produk dalam negeri, kecintaan terhadap persatuan suku, dls.

Yang intinya kita lebih bisa merasa memiliki apapun yang dihasilkan oleh negara ini dan kemudian memperkenalkan atau menunjukkannya pada pihak lain. Sehingga orang diluar kita pun tahu bahwa “itu” adalah produk/hasil karya dari kita, dan “itu” adalah milik kita.

Sekarang coba intropeksi diri kita…

  1. Berapa banyak barang-barang kita yang kita pakai adalah buatan lokal (apapun itu), lebih banyak mana sama buatan luar negeri yang kita pakai, terlepas seperti apapun kualitasnya?.
  2. Lebih sering mana kita belanja di pasar rakyat/tradisional… daripada keseringan kita belanja di Minimarket atau Mall yang merupakan investasi negara lain di negeri kita?.
  3. Lebih banyak mana orang-orang kita yang lebih ingin bekerja di perusahaan besar milik asing… dripada bikin lapangan kerja untuk kita dan orang-orang sekitar kita (alasannya adalah gaji)?.
  4. Kita lebih suka mana… menonton film-film Action Hollywood atau menonton film-film action sejarah perjuangan Indonesia (alasannya special efek film Hollywood lebih wah daripada lokal)?.
  5. Kalau diberi hadiah (kaos bermerk misalnya) dan disuruh milih satu… kita lebih pilih mana, kaos Billabong dan Adidas asli… atau kaos Dagadu dan Joger asli?.
  6. Satu lagi… Lebih banyak mana putra-putri kita yang mau belajar dan berlatih kesenian asli Indonesia (seperti Keroncong, Dangdut, Jaipong, Lagu daerah, Wayang, Gamelan, dls)… daripada putra-putri kita yang senang belajar kesenian “ala luar negeri” (Rock, Break Dance, Ballet, Pop, Hip Hop, Music Underground, dls)..??

Saya yakin jawabannya akan lebih banyak “produk luar negeri” daripada “dalam negeri” yang kita sukai. Apakah ini cermin nasionalisme? Ataukah nasionalisme baru bisa dilihat kalau kita bersedia perang atau tidak..??

Ayo saudaraku… kalau memang negara dan rakyat Indonesia ini terkenal dengan cinta damai dan anti perang, mari kita tunjukkan. Kalau cinta damai ya cinta saja… kalau tidak suka perang ya tidak suka saja, tidak usah pakai embel-embel “tapi”. Semua bisa diselesaikan dengan pembicaraan yang baik… tidak harus dengan senjata.

Kalau mau dihargai oleh negara lain… tunjukkan dengan karya, bukan dengan emosi. Lebih baik bombardir tuh negara Malaysia dengan produk-produk kita (bukan dengan rudal), dan batasi negara kita ini dari jumlah masukknya produk import yang membuat kita terlena.

Jangan hanya mahir membajak.

Kurangi sikap konsumtif terhadap produk asing… tingkatkan produksi dalam negeri dan “Gunakan serta Cintai produk-produk Indonesia” (kata bos Maspion), terlepas seperti apapun kualitasnya. Kualitas akan meningkat seiring jumlah pemakai. 🙂

Nah, sekarang masih inginkah kita “Berperang dengan Malaysia.. dan Ganyang Malaysia??!!”

Ini dulu sharing paaaaaannjang dari saya… semoga anda tidak bosan bacanya. Saya yakin mungkin akan timbul pro kontra anda terhadap artikel ini. Saya maklum dan saya menghargainya serta menyadari bahwa itu adalah konsekuensi dari tulisan seperti ini.

Saya tidak hendak menurunkan semangat nasionalis kita, atau malah mengobarkan semangat permusuhan… Bukan itu tujuan saya. Ini adalah kegundahan dan isi hati serta pikiran saya selama ini.

Silahkan sampaikan apapun opini anda terkait ini dikolom komentar, tapi yang rasional, sopan, dan elegan ya penyampaiannya (jangan arogan). Biar semua pembaca disini bisa “enak” membacanya. 🙂

Salam Hangat… Keep ACTION

Ayo Ganyang Malaysia??!! Hal Lebih Dalam Dibalik Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Artikel tersebut diambil dan di posting ulang di Blog ini atas seijin Resmi dari MaghfurAmin.com (Blog Belajar Bisnis Online dan Internet Marketing). Silahkan kunjungi Blog Belajar Bisnis Online dan Internet MarketingMaghfurAmin.com untuk mendapatkan informasi atau belajar seputar Bisnis Online dan Internet Marketing. Atau untuk sekedar meng-Copy artikelnya secara GRATIS.